Header Ads

Kenapa Dinamakan Mie Bangladesh? Ternyata Bukan Berasal dari Bangladesh



Mendengar nama Mie Bangladesh, orang yang baru pertama kali mencobanya mungkin akan membayangkan makanan khas dari Bangladesh. Apalagi tampilannya memang cukup “berani”: mie dengan kuah kental, telur, dan aroma rempah yang kuat. Namun, cerita di balik namanya justru membawa kita bukan ke Asia Selatan, melainkan ke Aceh—tepatnya Lhokseumawe.

Kisahnya bermula dari seorang pedagang mie yang akrab disapa Bang Lah. Ia berasal dari Delima, Pidie (Sigli) dan kemudian merantau ke Lhokseumawe. Sejumlah sumber lokal menyebut Bang Lah mulai berjualan mie di Lhokseumawe sekitar akhir 1970-an. Dari usaha sederhana inilah kemudian muncul nama yang sekarang terdengar begitu unik: Banglades.

Nama tersebut ternyata bukan merujuk kepada negara Bangladesh.

Bang Lah + Delima + Sigli = Banglades.

Sederhana, tetapi sangat khas Aceh. Nama panggilan penjual, daerah asal, dan kota yang lebih dikenal masyarakat digabungkan menjadi sebuah nama yang akhirnya melekat pada warung dan mie yang dijualnya.

Warung Banglades kemudian dikenal di Lhokseumawe. Salah satu lokasi yang disebut dalam catatan mengenai sejarahnya berada di kawasan Jalan Perdagangan, Pusong Baru. Racikan mie Bang Lah memiliki karakter yang kuat, terutama karena penggunaan bumbu dan rempah yang membuat rasanya berbeda dari mie instan yang sekadar direbus lalu diberi bumbu bawaan.

Perjalanan Mie Banglades tidak berhenti di Lhokseumawe.

Seiring waktu, nama Mie Bangladesh justru semakin populer di Medan. Di kota ini kita sekarang mudah menemukan berbagai warung yang menawarkan mie Bangladesh dengan gaya masing-masing. Umumnya mie dimasak bersama telur dan racikan bumbu tambahan hingga menghasilkan kuah yang sedikit, kental, atau nyemek. Aroma rempahnya kuat dan bumbunya menyelimuti mie, seperti yang terlihat pada sepiring mie yang saya nikmati kali ini.

Popularitasnya di Medan bahkan membuat banyak orang mengira Mie Bangladesh memang merupakan kuliner yang berasal dari kota tersebut. Padahal, jika mengikuti jejak sejarah Bang Lah, akarnya membawa kita kembali ke Lhokseumawe, sementara orang di balik namanya berasal dari Delima, Pidie.

Ada satu hal kecil yang juga menarik. Jika mengikuti cerita asal namanya, penulisan “Banglades” sebenarnya lebih menggambarkan sejarah tersebut dibandingkan “Bangladesh”. Huruf h di belakang muncul karena nama Banglades terdengar sangat mirip dengan nama negara Bangladesh, sehingga lama-kelamaan sebutan itulah yang lebih populer di masyarakat.

Jadi, ketika seseorang bertanya, “Kenapa dinamakan Mie Bangladesh?”, jawabannya ternyata bukan karena resepnya datang dari Bangladesh.

Nama itu menyimpan cerita seorang perantau Aceh:

Bang Lah, dari Delima, Sigli.

Dari sebuah nama sederhana di Lhokseumawe, lahirlah identitas kuliner yang puluhan tahun kemudian dikenal hingga Medan dan berbagai kota lainnya.

Kadang-kadang, sepiring mie memang menyimpan cerita perjalanan yang jauh lebih panjang daripada yang kita bayangkan.

No comments

Powered by Blogger.