Header Ads

Selamat Jalan Presidenku - Herr Habibie


Guten tag Herr Habibie, Wie Geht Ihnen? Itu kata yang saya simpan dan ingin saya tanyakan langsung ke Bapak, tapi kata tersebut tak pernah terwujud, karena sampai bapak pergi, saya belum pernah sempat bertatap muka dengan bapak.

Sedari kecil, di sekolah kami yang tak ada di peta, di ruang kelas yang dibelakangnya mengalir sungai seulimum, dari pegunungan seulawah menuju ke Banda, sering guru-guru kami bercerita, tentang hebatnya bapak. Saat itu engkau seorang menteri Ristek dan teknologi di kabinet pembangunan pimpinan pak Soeharto. Diantara semua menteri, hanya nama engkau yang kami ingat. Ketika guru bertanya, apa cita-cita kami, jawaban kami juga sederhana, ingin seperti pak Habibie. Saat itu kami belum tahu apa itu Doktoringenieur (Dr.-Ing.), dimana itu Aachen atau dimana itu Jerman. Cita-cita kami sederhana, hanya ingin seperti engkau itu saja.

Saat kuliah di Maastricht, saya dengan bangga bolak balik ke Aachen, hanya untuk update status friendster, bahwa saya bisa berkunjung di kota dan kampus dimana engkau dulu belajar. Itu saja.

Setelah menjadi alumni Jerman, saya merasa terbebani, karena setiap orang menyebut alumni Jerman, maka referensi yang diberikan orang adalah nama engkau. Harus lurus, jujur, serius dan harus bisa seperti engkau. Maaf eyang, saya tidak sanggup lagi menulis, cukup mengutip kata-kata yang pernah engkau sebut sebagai pelajaran dan pedoman kami selanjutnya.

"Kalau bukan anak bangsa ini yang membangun bangsanya, siapa lagi? Jangan saudara mengharapkan orang lain yang datang membangun bangsa kita"

Kini engkau pergi untuk selamanya, bertemu dengan kekasihmu ibu Ainun yang sudah lama menunggumu disana. Selamat tinggal eyang.

Ketika seseorang menghina anda, itu adalah sebuah pujian bahwa selama ini mereka menghabisan banyak waktu untuk memikirkan anda, bahkan ketika anda tidak memikirkan mereka.

No comments

Powered by Blogger.