Seandainya Pemain Abroad Timnas Lahir dan Besar di Kampung Asalnya, Kira-Kira Ini Pekerjaan Mereka Sekarang
Pernah membayangkan bagaimana jadinya jika para pemain abroad Timnas Indonesia tidak tumbuh besar di Eropa? Bagaimana jika mereka sejak kecil justru tinggal di daerah asal keluarga mereka di Indonesia, bermain bola di lapangan kampung, sekolah di sana, dan akhirnya menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari sepak bola profesional?
Mungkin Calvin Verdonk tidak akan berlari menyisir sisi kiri lapangan. Ole Romeny tidak menunggu umpan di depan gawang. Jay Idzes tidak berdiri tenang mengawal pertahanan. Dan Emil Audero mungkin tidak mengenakan sarung tangan penjaga gawang.
Tentu saja semuanya hanya imajinasi. Namun, kalau pekerjaan mereka kita sesuaikan dengan daerah asal keluarga masing-masing, kehidupan alternatif para pemain Timnas ini ternyata cukup menarik untuk dibayangkan.
Calvin Verdonk: Dari Meulaboh, Jadi Penjual Kopi Saring dan Mie Aceh
Kita mulai dari Calvin Verdonk.
Dalam kehidupan yang kita kenal sekarang, Calvin adalah pemain sepak bola profesional kelahiran Belanda yang membela Timnas Indonesia. Namun, darah Indonesia Calvin berasal dari Aceh. Ayahnya memiliki garis keturunan dari Meulaboh, Aceh Barat.
Sekarang bayangkan Calvin tidak pernah tumbuh besar di Belanda.
Ia lahir dan besar di Aceh. Sejak kecil Calvin terbiasa dengan suara orang mengobrol panjang di warung kopi. Pagi-pagi ia membantu keluarganya membuka kedai, menyusun gelas, merebus air, dan menyiapkan bubuk kopi.
Ketika dewasa, Calvin akhirnya punya warung sendiri.
Namanya sederhana: Kopi Aceh Bang Calvin.
Dengan kaus hitam dan celemek yang mulai kusam terkena kopi, Calvin berdiri di balik meja kayu. Tangannya memegang teko besar berisi air panas. Di depannya tergantung saringan kopi panjang yang sudah berubah warna karena digunakan ratusan kali.
Kopi dituangkan, disaring, kemudian ditarik lagi.
Di meja depan sudah duduk pelanggan yang sejak tadi membahas sepak bola, politik, harga barang, sampai persoalan kampung.
Tetapi Calvin tidak hanya menjual kopi.
Di sisi lain warung terdapat kuali besar dengan api menyala. Saat malam tiba, profesinya berubah: penjual mie Aceh.
Tangannya yang seharusnya memberikan umpan silang sekarang sibuk mengaduk mie dengan daging, udang, kepiting, dan bumbu merah pekat.
Kalau warung sedang penuh, mungkin kemampuan pressing Calvin tetap berguna.
Ole Romeny: Bang Ole, Juragan Durian Medan
Berikutnya Ole Romeny.
Garis keluarga Ole berkaitan dengan Medan. Maka, kalau ia tumbuh besar di Sumatera Utara, ada satu pekerjaan yang rasanya sulit dilewatkan: jualan durian.
Bayangkan sebuah lapak sederhana di pinggir jalan Medan.
Di depannya bertumpuk puluhan durian. Ada kursi plastik, meja kayu, lampu yang menggantung, dan sebuah papan besar bertuliskan:
DURIAN BANG OLE – MEDAN
Bang Ole berdiri di tengah tumpukan durian dengan celemek hijau. Begitu pelanggan datang, ia mengambil satu durian, menimbangnya sebentar dengan tangan, mengetuk kulitnya, lalu berkata dengan penuh keyakinan:
“Ini bagus, Bang. Manis kali ini.”
Pisau besar kemudian membelah durian.
Begitu terbuka, daging kuning tebal langsung terlihat.
Kalau ternyata duriannya kurang bagus?
Tenang. Bang Ole langsung menggantinya.
Striker boleh gagal mengeksekusi peluang. Tapi kalau urusan durian, Bang Ole tidak boleh mengecewakan pelanggan.
Ragnar Oratmangoen: Nelayan dari Maluku
Kehidupan alternatif Ragnar Oratmangoen berbeda lagi.
Dengan akar keluarganya dari Maluku, Ragnar mungkin tidak tumbuh jauh dari laut. Sejak kecil ia sudah mengenal perahu, ombak, jaring, dan ikan.
Pukul lima pagi, ketika sebagian orang masih tidur, Ragnar sudah berada di atas perahu kayu kecil.
Tidak ada jersey.
Tidak ada sepatu bola.
Bahkan tidak ada baju.
Hanya celana pendek, kulit yang terbakar matahari, dan sebuah jala besar di tangannya.
Perahu perlahan bergerak di atas laut Maluku yang tenang. Setelah menemukan tempat yang tepat, Ragnar melemparkan jala. Beberapa saat kemudian ia menariknya kembali.
Ikan-ikan kecil berkilauan terkena matahari pagi.
Ragnar duduk di pinggir perahu sambil memperhatikan hasil tangkapannya. Di kejauhan terlihat rumah-rumah pesisir, perbukitan hijau, dan perahu nelayan lainnya.
Dalam kehidupan ini, orang-orang kampung mungkin tidak memanggilnya Ragnar sang pemain Timnas.
Mereka cukup mengenalnya sebagai Ragnar, nelayan yang kalau pergi melaut jarang pulang dengan perahu kosong.
Kevin Diks: Penjual Ikan di Pasar Ambon
Kalau Ragnar yang menangkap ikan, Kevin Diks yang menjualnya.
Dengan akar keluarga yang juga berasal dari Maluku, Kevin kita tempatkan di sebuah pasar ikan dekat pelabuhan Ambon.
Pagi hari pasar sudah ramai.
Ikan tuna, cakalang, kakap, dan berbagai hasil laut tersusun di atas meja dengan bongkahan es. Di tengah keramaian itu berdirilah Kevin memakai celemek plastik biru.
Satu tangannya mengangkat seekor tuna besar.
Tetapi yang paling menarik bukan ikannya.
Kevin tersenyum lebar sambil bercanda dengan seorang ibu yang sedang menawar.
“Mahal sekali!”
Kevin tertawa.
Percakapan berlanjut. Ibu itu menawar lagi. Kevin pura-pura keberatan sebelum akhirnya ikan berpindah tangan.
Kalau di lapangan Kevin terkenal kuat dalam duel, di kehidupan alternatif ini duel terberatnya justru terjadi setiap pagi:
menghadapi ibu-ibu yang menawar ikan.
Thom Haye: Penjual Nasi Liwet Solo
Sekarang kita pindah ke Jawa.
Thom Haye memiliki garis keluarga Indonesia yang antara lain berkaitan dengan Solo. Dalam versi kehidupan ini, Thom menjadi pemilik warung Nasi Liwet Solo.
Penampilannya pun berubah total.
Tidak ada jersey merah-putih.
Thom mengenakan pakaian Jawa sederhana, kain batik, dan blangkon.
Di depannya terdapat bakul nasi besar berlapis daun pisang. Ada ayam kampung, telur pindang, sayur labu, tahu, tempe, dan sambal.
Seorang pelanggan datang.
Thom mengambil piring berlapis daun pisang, menyendok nasi liwet, lalu dengan hati-hati menata lauk satu per satu.
Gerakannya tetap tenang.
Maklum, ini Thom Haye.
Di lapangan ia mengatur tempo permainan. Di warung nasi liwet pun rupanya sama.
Bedanya, sekarang yang ia atur bukan lini tengah Timnas Indonesia, melainkan komposisi nasi, ayam, telur, sayur, dan sambal agar semuanya seimbang.
Dean James: Juragan Rawon Surabaya
Dean James mendapat kehidupan alternatif yang sedikit lebih sibuk.
Kita tempatkan Dean di Surabaya sebagai penjual rawon.
Warungnya sederhana dan selalu ramai pada jam makan siang. Di depan terdapat panci besar berisi kuah hitam yang masih mengepul.
Dean memakai kaus hitam dan celemek. Sebuah handuk kecil tersampir di bahunya.
“Rawon satu!”
Dean langsung bergerak.
Nasi masuk mangkuk, disusul daging dan kuah rawon hitam. Kemudian tauge pendek, daun bawang, telur asin, sambal, dan kerupuk.
Tidak sampai beberapa menit, satu mangkuk sudah berpindah ke meja pelanggan.
Belum sempat duduk, terdengar pesanan berikutnya.
“Rawon dua!”
Beginilah pertandingan Dean setiap hari.
Bukan 2 × 45 menit.
Tetapi dari pagi sampai kuah rawonnya habis.
Jay Idzes: Tukang Lumpia di Gerobak Tua Semarang
Kapten kita mendapatkan pekerjaan yang lebih sederhana.
Jay Idzes menjadi penjual lumpia Semarang.
Bukan restoran besar.
Bukan pula toko modern ber-AC.
Jay hanya memiliki sebuah gerobak tua yang catnya mulai terkelupas.
Bajunya juga sederhana dan sedikit lusuh. Handuk tergantung di bahu. Di depannya terdapat wajan besar berisi minyak panas.
Satu demi satu lumpia dimasukkan.
Jay menunggu dengan sabar, membaliknya menggunakan penjepit, lalu mengangkatnya ketika warnanya sudah keemasan.
Pelanggan berdiri mengantre di depan gerobak.
Jay tetap tersenyum.
Mungkin jiwa kapten memang tidak hilang begitu saja. Bahkan ketika menjadi tukang lumpia, wajahnya tetap terlihat seperti seseorang yang siap berkata:
“Tenang. Semua kebagian.”
Emil Audero: Raja Ayam Taliwang Lombok
Terakhir, Emil Audero.
Berbeda dari sebagian pemain lain dalam cerita ini, Emil memang lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Maka kehidupan alternatifnya terasa sangat masuk akal.
Sore hari di Lombok, asap mengepul dari sebuah warung sederhana dekat pantai.
Di atas bara arang terdapat beberapa ekor ayam yang sudah dilumuri bumbu merah.
Di belakang panggangan berdiri Emil.
Kausnya mulai terkena asap dan cipratan bumbu. Celemeknya tidak lagi bersih. Tangannya sibuk mengoleskan bumbu menggunakan kuas sambil sesekali membalik ayam.
Api tiba-tiba membesar.
Wusss!
Emil mundur sedikit, lalu tertawa.
Di belakangnya terdapat papan bertuliskan:
AYAM TALIWANG LOMBOK
Ayam matang kemudian disajikan bersama plecing kangkung, nasi hangat, sambal, dan jeruk limau.
Kalau dalam kehidupan sebenarnya Emil menjaga agar bola tidak masuk ke gawang, dalam kehidupan ini tugasnya hanya satu:
menjaga agar ayam tidak gosong.
Dari Lapangan Eropa ke Warung Nusantara
Tentu Calvin Verdonk tetaplah Calvin Verdonk, Ole Romeny tetap seorang pesepak bola, begitu pula Ragnar Oratmangoen, Kevin Diks, Thom Haye, Dean James, Jay Idzes, dan Emil Audero.
Cerita ini sepenuhnya imajinasi.
Namun justru di situlah keseruannya.
Para pemain abroad Timnas Indonesia datang dari latar belakang yang sangat beragam. Di balik nama-nama Eropa mereka terdapat jejak keluarga yang terhubung dengan berbagai daerah di Nusantara: Aceh, Sumatera Utara, Maluku, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Lombok.
Maka sesekali menarik membayangkan sebuah Indonesia alternatif.
Di sana Calvin tidak mengirim crossing, tetapi menarik kopi saring Aceh.
Ole tidak mencetak gol, tetapi membelah durian Medan.
Ragnar menarik jala dari laut Maluku. Kevin sibuk melayani pembeli ikan di Ambon. Thom mengatur seporsi nasi liwet. Dean menjaga panci rawon tetap mengepul. Jay menggoreng lumpia di gerobak tuanya. Dan Emil berdiri di depan bara api sambil membakar ayam Taliwang.
Mereka mungkin tidak pernah mengenakan Garuda di dada.
Tidak pernah bermain di stadion yang penuh puluhan ribu penonton.
Tidak pernah mendengar satu stadion meneriakkan nama mereka.
Tetapi siapa tahu?
Di kehidupan alternatif itu, mereka tetap menjadi idola.
Hanya saja bukan karena gol, assist, clean sheet, atau kemenangan Timnas.
Melainkan karena ada pelanggan yang berkata:
XX xx
Post a Comment