Header Ads

Rangkuman Tausiah dengan Prof Dr Yunan Yusuf

Alhamdulillah, pengajian al-Hisab minggu lalu kedatangan pemateri istimewa, Prof. DR. Yunan Yusuf, Guru Besar IUN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pengajian dilakukan seperti biasa, dimulai dengan tilawah secara bergilir, baru selanjutnya dilanjutkan dengan tausiah. Nah, karena saat tilawah kita membaca ayat kursi, akhirnya Prof Yunan memberikan tausiah tafsir dari ayat kursi.

Mistikisasi Ayat Qurán
Sebelum menjelaskan tentang tafsir ayt kursi, Prof Yunan menjelaskan suatu praktik yang masih lazim ditemukan di Indonesia. Beliau bercerita pengalaman waktu kecil beliau di Medan, katanya dulu kita identik dengan mistikisasi ayat, kalau jumpa anjing misalya, baca ayat summum bukmum, dengan harapan agar anjing tersebut tidak menggigit atau mengganggu kita, kalau kita tersesat di hutan, kita baca surat wazzuha, katanya kalau membaca ayat tersebut kita tidak akan tersesat. Selain kedua ayat itu, banyak juga di masyarakat kita, yang menulis ayat-ayat tertentu dan kemudian digantung di pintu, sebagaibpenangkal maling.


Al hisab 1

Prof Yunan menjelaskan bahwa menurut Rasulullah SAW, dalam Al-Quran memang ada ayat atau surat tertentu yang punya efek kesehatan. Misalnya pada suatu waktu, Rasulullah SAW mengirim ekpedisi untuk mengislaman suatu kaum. Tim ini dipimpin oleh Said Al-Khudri. Nah, karena perjalanannya jauh, akhirnya mereka kehausan dan bertemulah mereka dengan suatu suku, disini mereka mencoba meminta air minum dari suku tersebut, tapi kepala sukunya tidak mau meberikan air kepada mereka. Saat itu kepala sukunya sedang sakit karena digigit kalajengkin. Setelah beberapa kali meminta, kepala sukunya mau meberikan air kepada mereka, dengan syarat mereka bisa mengobati sakit yang sedang dialami oleh kepala suku ini. Abu Said Al-khudri kemudian maju dan bilang bisa menyembuhkan sakit tersebut, tapi beliau juga minta imbalan, selain air, mereka minta 100 ekor unta. Kepala suku tersebut menyetujuinya.

Kemudian Abu said mengambil segelas air, lalu membacakan ayat Al-Fatihah sebanyak tujuh kali dan ditiupkan kedalam air tersebut. Air yang sudah dibacakan ayat ini kemudian diminum oleh kepala suku dan sembuhlah penyakitnya. Setelah pulang dan berjumpa Rasulullah dan bercerita tentang "pengobatan" yang beliau lakukan dengan kepala suku ini, dan Rasulullah menjawab "saddaqta" yang bermakna bahwa sahabat ini sudah melakukan hal yang benar. Prof Yunan kemudian menyimpulkan bahwa seharusnya penggunaaan ayat quran untuk pengobatan ini hanya dilakukan pada ayat-ayat yang memang pernah dilakukan oleh Rasulullah, tidak asal mengambil ayat tertentu dan kemudian dibacakan atau digunakan untuk tujuan tertentu. Termasuk dalam hal ini praktik rukyah, dimana rukyah ini sebaiknya hanya dilakukan dengan ayat-ayat yang memang pernah digunakan oleh Rasulullah, tidak asal memilih atau memistikisasi ayat.

Tentang Ayat Kursi
Dinamakan surat kursi karena dalam surat ini terdapat kata "kursi". Ayat kursi ini istimewa karena kalau diperas (dipelajari lebih lanjut) dari 99 asmaul husna, semuanya terkandung dalam ayat ini.

al hisab 3

Adap Beribadah
Biasanya kita berdoa kalau kita mengharapkan sesuatu, dan ini adalah naluri manusia, sama seperti orang lapar yang meminta makanan. Tapi dalam kontek aqidah, kekurangan dan kelebihan yang kita punya merupakan bagian dari kebutuhan itu sendiri, bahkan dibalik nikmat selalu ada kekurangan yang kita tidak tahu. Dalam Berdoa atau beribadah, shalat misalnya, disarankan kita berdoa seolah2 kita "melihat Allah", an ta'budabullah kaanaka tarahu, fain lam takun tarahu, fainnahu yaraka. Tapi kalau memang kita tidak melihat (dan kita tidak akan pernah bisa melihat secara fisik langsung), maka yakinlah bahwa Allah SWT melihat kita.
Dalam filsafat ilmu, pengetahuan kita ada 3 tingkat.
  1. tingkat konkrit: pengetahuan yang paling dasar yang bisa kita lihat. kalau kita sebut sigale2, maka yg muncul dipikiran kita adalah wayang medan. disini tidak ada Tuhan, sehingga wajar dalam ilmu biasa, banyak orang yang tidak mengenal tuhan.
  1. tingkat abtrak, naik sedikit, lebih tinggi dari tingkat konkrit, abstrak, misalnya 2+2=4. angka 2 pun berbeda tergantung tulisan, misalnya tulisan 2 dalam angka romawi berbeda dengan jepang, dan yang pasti, "dua" itu adalah abtrak, tidak pernah bisa melihat tapi bisa direpresentasikan dalam bentuk angka.
  2. Tingkat gaib, contohnya apakah kita punya nyawa? dimana itu nyawa? yang pasti, nyawa itu ada, tapi tidak bisa dilihat, tidak bisa diabtrakkan ataupun di representasikan dan inilah yg disebut gaib.
Makanya dalam berdoa, baiknya kita meminta tidak hanya yg abstrak, tetapi juga yg gaib. Selian itu, jangan hanya meminta, tapi berbuat baiklah atau punya lah modal sebelum meminta, jangan asal minta. Dalam hal ini mungkin sama seperti orang yang mau melamar seorang gadis, sebelum melamar, setidaknya dia punya lah modal sesuatu, baik ilmu atau harta, sehingga yang diminta bisa diberikan karena memang dia sudah duluan punya modal dan usaha.

Tanya Jawab
Tanya: Sejauh mana mistikisasi diperbolehkan dalam Islam?
Jawab: kalau ada hadis pendukungnya maka itu boleh dilakukan, tapi kalau tidak ya sebaiknya tidak dilakukan.

Tanya: bagaimana dengan rukyah?
Jawab: ada hadis rukyah yg dipergunakan untuk menyembuhkan tapi harus hati-hati, pastikan dulu ada dukungan hadisnya.

Cara beribadah agar khusu'
Dalam beribadan kepada Allah, imam Ghazali menvanjurkan 3 hal.
  1. Kalau sembahyang, sembahyanglah ditempat sempit. Sehingga kita bisa lebih khusu'.
  2. Pahami makna bacaan.
  3. Yakini apa yg ada di benakmu adalah ciptaan allah.
Syarat ibadah, adalah "huzurul qalbi", hadirnya hati, makanya kita harus khusu'. ingat fawailulul lil mushallil, allazi nahum an shalatihim saahun (lalai). Agar jangan lalai, ya kita harus mengejar dan berusaha untuk hadirnya qalbi dalam ibadah.
Hadis qudsi, Ana inda zanni abdi, saya ini menurut persangkaat hamba saya, hadis qudsi. makanya kita harus berbaik sangka kepada

Tentang takdir
Dalam ilmu kalam, tak seorangpun yang tahu dengan takdir, karena takdir baru diketahui diakhir, makanya tidak relefan kalau ada orang yang bilang bilang "saya melawan takdir, karena memang tidak ada yang tau, kalau memang melawan ya kan berarti sudah tau sebelumnya.

Tentang akal
Dalam quran, kata akal dalam bentuk kata sifat (isim) tidak ditemukan, yg ditemukan adalah dalam kata kerja (fiil). Maknanya bahwa akal itu adalah proses, yang berarti jika ada org melakukan sesuatu maka harus dilakukan dengan kesadarannya. Kalau tidak sadar berarti tidak melakukan, termasuk dalam hal ini orang yang beribadah misalnya shalat, dimana orang yang shalat itu harus tahu rukun shalatnya, kalau tidak tahu rukun shalat tetapi tetap shalat, yang seperti gak ada ibadahnya (wallahu a'lam)

Tentang keiklasan beribadah
Tanya: Apakah kita beribadah untuk mengharapkan pahala atau kerizaan Allah?
Jawab: Ibadah ada dua tingkat: ibadah lillah (mengharapkan kepunyaan Allah) dan ibadah billah (mengharapkan kerizaan Allah). Dan sesungguhnya kita diperbolehkan dalam beribadah untuk mengharapkan keduanya, kerizaan dan kepunyaan Allah. Tetapi dalam kajian tasauf ibadah billah lebih tinggi tingkatannya.

Bagaimana dengan iklas?
Dalam Al-quran, Iklas tidak berkaitan dengan diperoleh atau tidak diperoleh, tetapi dalam bentuk ibadah ketauhidan.

Sekian, wallahu A'lam.

1 comment:

Powered by Blogger.