Header Ads

Balada Wisata ke Mesir: Dua Hari Tiga Kali Kena Tipu di Kairo

Giza Mesir
Waktu masih kuliah di Berlin dulu, saya punya seorang teman orang Kamerun yang bercerita kalau orang Mesir tidak bisa dipercaya. Katanya orang Mesir suka menipu, pandai bersilat lidah, talkatif dan kadang mau melakukan apasaja demi kepentingan mereka sendiri. Bahkan dia pernah cerita kalau maskapai Jerman, Lufthansa, yang terbang ke Mesir akan memperkerjakan orang yang mereka rekrut sendiri untuk mengurus bagasi penumpangnya, tidak mempercayai petugas yang dipekerjakan oleh bandara setempat, karena sering petugas koper tersebut mengambil barang penumpang saat pemindahan bagasi dari pesawat ke terminal bandara, atau sebaliknya. Tentu saja saya tidak serta merta percaya cerita tersebut; pertama karena saya belum pernah mengalami langsung atau belum pernah baca berita atau dengar dari orang lain yang mengalami masalah tersebut, yang kedua karena memang saat itu saya belum pernah ke Mesir, Jadi belum tahu bagaimana masyarakatnya. Sedangkan alasan ketiga adalah karena Mesir adalah negara Muslim, dan menipu adalah dosa bagi orang Islam. Hal ini langsung saya sampaikan ke si teman sebagai tanda protes atas cerita dia. Saya bilang bahwa setahu saya orang Mesir itu adalah muslim, dan menipu tidak boleh jadi budaya mereka. Komentar saya ini justru dibalas senyum oleh dia, "kalau Muslim kayak kamu, saya percaya, Kamu enggak  menipu, tapi di Mesir agama dan menipu ada dua hal yang berbeda". Dia juga mencontohkan dirinya sendiri sebaga Kristen yang taat, tidak pernah main perempuan, tapi tetap saja minum alkohol, meski dia tahu kalau alkohol itu juga dilarang dalam agama dia.


Bergaya di Memphis

Dan beberapa bulan lalu setelah saya ke Kairo, apa yang diceritakan si kawan ternyata ada benarnya juga. Meski tujuan utama saya kesana bukan untuk membuktikan ucapannya, tapi punya misi lain yang sudah saya idamkan sejak kecil (Baca: Pengalaman pertama kali ke Mesir).  Dan untuk urusan tipu menipu, saya jadi korban langsung selama di sana.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya bahwa saya berkunjung ke Mesir sebanyak dua kali, pertama datang sendiri dan mutar-mutar selama dua hari, terus terbang ke Uganda, dan pulangnya kembali transit di Kairo selama sehari. Karena saya punya multiple entri visa ke Mesir, jadinya bisa seperti ini. Jika kunjungan pertama nekat sendiri, kunjungan kedua saya ditemani oleh teman yang sedang kuliah di Kairo, bahkan di jemput dari bandara dan di antar lagi ke Bandara. Pengalaman "tertipu" ini semuanya saya alami saat kunjungan pertama, dan sadarnya pada waktu kunjungan kedua, tentunya setelah dapat penjelasan dari si kawan tentang hal-hal yang sebelumnya saya alami sendiri.



Pintu Masuk Saqqara
Tipuan Pertama
Tiba di Kairo masih jam 06.00 pagi. Awalnya sempat tertahan di Imigrasi, meski sudah punya visa di paspor, pihak imigrasi sepertinya curiga dengan saya yang lagi-lagi penampilannya kumuh, karena belum mandi dan emang (bawaanya) enggak rapi. Mereka sempat nanya apa tujuan saya kesana, dan berapa uang yang saya bawa. Saya bilang kesana cuma untuk jalan-jalan dan gak bawa uang, tetapi bawa kartu. Tapi mereka curiganya berlebihan, bahkan saya sempat diminta keluar antrian, nunggu di kursi sendirian, padahal semua dokumen saya lengkap. Setelah sekitar 5 menit menunggu, saya akhirnya diperbolehkan masuk.

Keluar dari imigrasi, saya ambil tas dan langsung berjalan keluar. Dan dari sini masalah dimulai. Dari awal saya tidak mempersiapkan diri sama sekali, tidak tahu mobil mana yang bisa diambil dari bandara ke kota, atau adakah kereta bandara, atau taksi mana yang bisa dipercaya, dan berapa rate normal taksinya. Saya keluar dari terminal kedatangan, coba cari wifi gratis yang biasanya ada di sekitar bandara, dan sayangnya bandara Kairo ini sama sekali tidak menyediakan wifi gratis. Jadinya saya tidak bisa browsing untuk mencari informasi lebih lanjut. Sambil mutar-mutar, banyak sekali yang mendekat dan menawarkan taksi, mereka mengaku taksi oficial bandara yang lengkap dengan  tanda pengenalnya. Mereka bilang rate nya 20 dolar, atau 300 pound mesir. Saya lihat peta offline di hape dan ternyata jarak bandara ke pusat kota tidak begitu jauh, dan tidak mungkin harga sebanyak itu. Tapi semua yang mendekat nawarnya dengan harga segitu, dan mereka mengaku harganya sedang naik, kecuali bayar pakai dolar. Setelah sekitar 20 menit menunggu, saya pun pasrah ikut dengan salah satu mereka, tapi saya bilang cuma mau bayar dalam pound Mesir, bukan dalam Dolar atau Euro. Mereka sepertinya tidak senang dengan jawaban saya, tapi pasti gak mau buang peluang.


Cairo


Pada kunjungan kedua saya ke Kairo, saya dijemput kawan yang kuliah disana, kejadiannya sama, begitu kami mau menuju ke kota, banyak sopir taksi mendekat, dan menawarkan tumpangan denga biaya hanya 80 pound mesir. Kawan saya malah nolak, karena katanya harganya hanya 65 pound. Saya "meu asek ulee", sadar betapa banyak saya kena tipu sebelumnya, dari harga yang hanya dibawah 100-an, mereka minta 300 ke saya. Kawan saya bilang "ini mereka lagi coba nipu kita bang, parah sekali, maksa lagi". Akhirnya kami naik bus transit gratis (yang kata supir taksi juga tidak ada), menuju ke terminal bus terdekat di luar bandara, dan dari sana naik taksi luar bandara yang ongkosnya hanya 65 pound.


Pesan pertama saya kalau berkunjung ke Mesir: sebaiknya cari teman, kenalan, atau mahasiswa Indonesia yang lagi kuliah disana. Jadikan mereka tour guide yang baik karena mereka kadang lebih tahu tentang Kairo dibandingkan tour-guide berbayar orang Mesir asli. Kalau pakai mahasiswa, dijamin kita lebih hemat, lebih paham dan tidak bakalan dikibulin. Percaya deh!

Balik lagi ke kunjungan pertama. Setelah tiba di hostel, saya diperbolehkan untuk langsung chek in, walau masih jam 10 pagi. Malah mereka memberikan welcome drink berupa teh dan sedikit snack. Selesai mandi, saya jalan-jalan di sekitar sungai nil,  berhenti di salah satu mesjid untuk shalat jumat, karena memang hari itu adalah hari Jumat. Selesai shalat, saya jalan lagi. ketika sampai di seberang jembatan, ada orang Mesir yang mencoba untuk lagi-lagi menipu saya, cuma karena trik nya sudah sangat familiar, dia tidak berhasil.


Sungai Nil

Tipuan kedua
Esoknya saya Putuskan untuk ikut tur pribadi dengan mobil yang di arrange hostel. Di sini tour guide-nya lumayan jujur; setiap kali kami masuk ke tempat wisata, dia selalu ingatkan saya akan adanya orang yang akan "memanfaatkan" peluang, dan jika memang saya harus bayar, dia bilang berapa seharusnya.

Tipuannya dimulai ketika berkunjung ke komplek piramid di Saqqara. Ketika akan masuk kebagian dalam sebuah piramid, ada petugas yang menemani, biasanya dua orang dan masuknya bergantian. Ketika sampai didalam, mereka mempersilahkan kita untuk foto-foto. Dan setelah memotret, mereka akan minta uang karena telah memotret. cuma karena tour guidenya sudah duluan beritahu saya, ketika dia suruh saya ambil gambar, saya tanya dulu apa harus bayar, karena sebenarnya saya sudah punya tiket di pintu masuk pertama, dan didalam tidak perlu bayar apapun lagi. Dia mengalah, sambil bilang minta tips saja untuk dia. Akhirnya uang 20 pund saya berikan, sesuai dengan saran dari tour-guide saya. Si petugas (tidak resmi) ini sempat protes, katanya sedikit sekali, saya balas bahwa sebenarnya saya gak perlu kasi lagi, karena saya sudah bayar di pintu masuk sebanyak 100 pound. Percobaan dia kali ini belum berhasil.


Pesan kedua saya: Kalau ikut tour di Mesir, jangan pernah foto sama orang lokal, dengan unta, atau dengan apapun tanpa tanya dulu boleh atau tidak, karena salah-salah, kita dimintai uang. Jangan langsung percaya dengan sikap ramah mereka, karena biasanya ada udang dibalik peyek.
Sprink di Giza

Selesai dari Saqqara, saya diajak ke Memphis. Kota Memphis dulunya merupakan ibukota dari Mesir Kuno. Di sini banyak terdapat patung-patung raja, dan yang paling besar ada didalamnya. Nah, saat saya lagi lihat-lihat patung besar dari tembaga (kalau gak salah), ada petugas yang mendekat dan menyapa dengan ramah. Biasa mereka nanya dari Negara mana dan bla bla bla, ujung-ujungnya mereka minta foto saya disamping patung tadi. Cuma karena sudah tau trik-nya, saya bilang gak usah, saya suka memoto dan tidak suka difoto. Tapi entah sudah dongkol saya tolak terus semua tawaran dia, ujung-ujungnya dia minta tips secara terang-terangan. Saya bilang kalau didepan saya sudah bayar tiket, dan harusnya dia sudah dapat gaji dari tiket saya. Bukan menyerah atau malu, dia malah nekat minta uang, saya pun, menjauh, ke tempat penjualan oleh-oleh. Syukur dia tidak mengejar saya. Nah, di tempat penjualan oleh-oleh inilah saya kena tipu. Karena teringat request istri untuk membelikan tempelan kulkas, saya coba lihat mana oleh-oleh kecil di sebuah kios yang ada di sana. Saya cari yang kecil dan murah, dan setelah ketemu saya coba tawar, harganya dia buka 150 pound sebuah, plus rayuan dan pujian bahwa kita sesama muslim dan orang Indonesia baik-baik, dan juga keluh kesah bahwa barangya susah laku dan dia mau memberikan harga terbaik ke saya, karena saya orang Indonesia. Setelah tawar-menawar, satu tempelan kulkas dia jual 50 sebuah, dan saya hanya beli sebuah saja, saya niatkan saja membantu si bapak tua. Dari memphis, saya diajak ke tempat pembuatan kertas kuno ala Mesir. Masuk kesini tidak perlu bayar, dan mereka mau mendemonstrasikan cara membuat kertas dengan peralatan tradisional. Tapi selesai demomsntrasi, langsung mereka nawarin produk kertas yang mereka buat plus nama saya dengan harga murah (katanya). Karena saya enggak niat beli dan juga sangat mahal, saya langsung keluar, mereka sepertinya kezel banget. Di luar, saya ketemu dengan penjual tempelan kulkas yang menjual hanya 20 pound 3 buah. Di sini baru saya merasa ketipu sama kakek yang jualan di Memphis tadi. Dan parahnya lagi, pas kunjungan kedua dan saya dikawani oleh kawan yang lagi kuliah disana, dia berhasil membeli tempelan kulkas dengan harga hanya 20 pound 5 buah. Kalah jauh saya.

Pesan ketiga saya: Kalau mau belanja oleh-oleh di Mesir, pastikan ditawar dulu, kalau gak bisa bahasa Arab, ajak mahasiswa yang lagi kuliah disana. Kalau gak ada teman, beli di tempat yang sudah ada label harganya, tapi di tempat-tempat seperti ini biasanya mahal.

Tipuan Ketiga
Selesai dari tempat pembuatan kertas, saya akhirnya dibawa ke Giza. Dan untuk ke Giza ini sebenarnya tidak perlu ikut tur atau pakai taksi, cukup pakai kereta atau metro yang harganya sangat murah meriah. Cuma karena saya sebelumnya tidak tahu, dan kunjungan ke Giza ini sudah jadi bagian dari trip saya, akhinya saya ikut saja. Nah, karena saya bilang ke tour-guide kalau saya seumur hidup belum pernah naik Onta, dia jadinya membawa saya ke agen tour keliling Giza pakai Unta, atau bisa juga pakai kuda, tergantung pilihan kita. Setelah menyerahkan saya ke kantor ini, si tour guide menghilang entah kemana, saya pasrah saja sendirian didalam. Ada anak muda yang masuk dan menjelaskan tentang rute tur, plus langsung memakaikan saya surban di kepala saya, selesai dia pakai, langsung minta uang 100 pound, padahal saya gak minat beli, Dia jualannya maksa dan saya kezel, lagi-lagi terpaksa saya iklaskan saja.
Sebuah sudut kota Kairo

Nah, selesai menjelaskan rute, saya langsung dibilang boleh bayar nanti, dan waktu saya tanya kenapa tidak sekarang saja, mereka beralasan biar saya menikmati dulu tur nya, dan ini ternyata hanya akal-akalan mereka. Karena ketika saya paksa berapa ratenya, mereka bilang 45 DOLAR. saya pikir 45 pound Mesir. Awalnya saya mau mundur saja, tidak iklas harus kehilangan uang 45 dolaar atau sekitar 600 ribu hanya untuk naik onta di padang pasir. Tapi karena sudah saya bilang IYA duluan, lagi-lagi saya harus iklas ditipu. Dan tipuannya belum berakhir disini saudara-saudara, karena selain harga sewa onta yang 45 dolar, saya juga harus bayar uang masuk ke komplek giza 100 pound mesir, dan memberikan tips kepada dua orang tour-guide yang menemani saya keliling komplek giza ini, satu tugasnya narik onta, dan satu lagi sebagai tour-guidenya. KETIPU BANYAK saya. kedua tour-guide ini mengaku bahwa mereka tidak digaji, dan hanya dapat uang dari tips wisatawan. Bahkan dia langsung minta 300 pound, harga yang sangat besar menurut saya. Akhirnya lagi-lagi saya harus bayar masing-masing 100 pound ke mereka, meski nampaknya mereka gak iklas dengan pemberian sebanyak itu. Untuk mereka tahu, saya lebih gak iklas, karena seharusnya mereka sudah dapat gaji dari uang 45 dolar yang saya bayar ke bos mereka. Brat keunong peungeut.

Pesan terakhir saya: di Komplek Giza ini banyak orang tua berwajah iba menarik-narik onta. Hati-hati dengan mereka, jangan sekali-kali foto dengan onta, kecuali anda sudah siap membayar uang sebanyak mereka minta. Kalau emang mau foto, tanya dulu berapa harganya. Ada juga yang jualan air, nyapanya ramah, terus masukin air ke tas kita, trus minta uang, jualan kok maksa. Kalau gak mau, langsung balikin, kalau ditolak, taruh saja ditanah. Dia kasar, kita juga bisa kasar, eh!
Itulah sekelumit pengalaman saya di Kairo, yang ternyata banyak kena tipunya dibandingkan senangnya. Tapi ya sudahlah, besok-besok jadi pengalaman, khususnya saat naik taksi, belanja sama orang Mesir, dan saat ke objek wisata di sekitaran Kairo.

Sekian (situnis.com)

3 comments:

  1. Capek bacanya bang. Maksudnya ikutan capek karena merasa ikutan kena tipu hahaha. Tapi tetep ya kalau ada kesempatan ke Mesir, tentu harus dimanfaatkan dengan baik. :)

    omnduut.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah begitulah oom, tapi kalau ada kesempatan, mau aja balik lagi kesana :)

      Delete

Powered by Blogger.