Header Ads

Kuah Chue di Kaki Gunung Kulu: Wisata Kuliner Aceh yang Wajib di Coba


Jujur saya tidak tahu apa Bahasa Indonesia untuk chue, dalam Bahasa Aceh dari kecil saya sudah diperkenalkan dengan sebutan cue  atau Chue, itu saja. Ibu saya biasanya memasak chue dengan kuah leumak, dan chue-nya sendiri jarang dibeli, tapi biasanya pemberian teman atau saudara yang tinggal dekat sungai yang kerjanya mengumpulkan chue. Saya tidak tahu bagaimana keong berwarna hitam dari sungai ini di olah, yang saya tahu sudah tersedia dalam ciwek. Keluarga kami juga bukan penggemar chue, kecuali ibu saya. Jadinya chue hanya makanan biasa yang tak menarik untuk dimakan, apalagi untuk diceritakan.

Dan wisata kuliner makan Chue ini juga enggak pernah ada dalam rencana saya. Semua terjadi secara tiba-tiba. Dalam sebuah perjalan dinas minggu lalu, kami berhenti di sebuah warung makan tradisional yang menyediakan kuah Chue. Kami berangkat dari Banda Aceh ke kota tujuan kami di Kota Calang sekitar jam 10 pagi. Perjalanan Banda Aceh -  Calang sejatinya butuh waktu sekitar 3 jam, sudah termasuk istirahat untuk makan-makan. Jalannya mulus seperti jalan tol. Hanya saja harus melewati tiga gunung besar, gunung Paro, kulu dan Geurutee. Nah Warung makan ini terletak tepat setelah gunung Kulu, tepatnya di Kilometer 43, daerah kemukiman Lhoong.



Waktu masih di Banda Aceh, saya sempat heran kenapa si supir terburu-buru untuk berangkat lebih awal, ternyata tanpa pengetahuan saya, mereka merencanakan untuk makan siang di Warung Kulu tadi. Katanya kalau tiba telat, Kuah Chue nya sudah habis duluan. Dan benar saja, sekitar jam 11 kami tiba disana, banyak mobil yang parkir di depan warung tadi. Umumnya mereka dari Banda Aceh yang sengaja datang kesana untuk menikmati Kuah Chue, wah, terkenal juga ini warung, telat tahunya saya.

Masuk kedalam, kami langsung dihidangkan dengan berbagai santapan. Ada ikan bakar, ikan goreng, Ayam kampung dan tentunya kuah chue. Untuk nasi bisa ambil sendiri di depan. Ini penampakan sebagian dari menu-menunya.

Menu Utama Kuah Cue atau Chue

Ikan Goreng

Ikan Bakar
Selain Kuah Chue dan ikan bakar, mereka juga punya menu ayam kampung yang diberi nama "Ayam Beude". Saya enggak sempat nanya alasan mereka kasi nama ayam beude, mungkin di tangkapnya pakai beude, karena ayamnya liar, atau biar ada saingan ayam tangkap atau ayam lepas yang sudah duluan punya nama? hanya mereka yang tahu. Yang pasti saya sempat coba ayamnya dan rasanya sangat empuk, khas ayam kampung, cuma dagingnya sedikit, ya namanya juga ayam kampung kan? kalau mau yang dagingnya banyak ya makan kalkun sekalian; kenapa jadi ingat sama halb hanchen ya? 

Harus saya akui, warung ini sangat nyaman sebagai tempat istirahat setelah lama menyetir. Warungya asri, toiletnya juga bersih. Di sampingnya ada kolam ikan dan di depannya ada ayunan. Jadi buat mereka yang kurang bahagia masa kecil, atau pas masa kecilnya gak punya ayunan, mungkin bisa kesini untuk mencoba ayunannya. Seperti ibu-ibu ini yang mengaku waktu kecilnya dulu enggak punya ayunan seperti ini.


Sekian dulu ceritanya, pesan saya buat yang menderita asam urat, jangan banyak-banyak makannya ya, ntar kambuh lagi sakitnya. Itu saja. (situnis.com)

No comments

Powered by Blogger.