Header Ads

Orang Aceh Baik-Baik, Makanya Orang Aceh Gemuk-Gemuk

Orang Aceh :)

Beberapa hari lalu saya sempat terlibat diskusi seru mengenai keadaan kesehatan masyarakat Aceh, dimana angka kesakitannya terus menerus naik setiap tahun. “kita kurang sumber daya, kita kurang promosi, orang sakit tambah banyak, entah bagaimana kita nantinya” keluh seorang dokter senior yang juga seorang dokter ahli penyakit dalam waktu itu. Sekarang DM jadi penyakit nomor dua di Malaysia, Aceh entah gimana? Kita gak tahu, makanya harus kita teliti, pola makan kita kan sama, yang enak-enak, banyak lemak, manis-manis,” sambungnya lagi. “selain pola makan, kira-kira apa lagi dok? Tanya saya, “pola hidup” jawabnya singkat, “sedentary”? tanya saya, dan beliau mengangguk. 


Keluhan yang disampaikan berliau sebenarnya adalah rahasia umum bagi orang kesehatan, namun rahasia ini sepertinya sudah sangat rahasia, sehingga sangat sedikit orang yang mau peduli, seperti yang dikeluhkan sang dokter tadi. Lihat saja pola makan kita orang Aceh, kalau gak makan nasi bukan makan namanya. Dalam Bahasa aceh, makan sama dengan Pajoh bu alias makan nasi, jadi kalau orang nanya, “sudah makan siang?”, dalam Bahasa aceh jadinya “ka lheuh bu cet uroe?”, begitu juga dengan sarapan pagi yang jadi “bu bungoh” atau makan malam yang jadi “bu malam”, pokoknya kalau makan harus ada “bu” alias nasi. Jadi tidak heran kalau ketemu orang aceh yang baru saja makan mie sepiring jam 12 siang, ketika ditanya apa udah makan siang, maka jawabannya adalah “belum”, karena yang baru dia akan adalah mie, bukan nasi.

Masih tentang makanan, kalau bertamu, kita juga suka disuguhkan dengan  makanan yang super enak dan manis. Apalagi kalau bertamu ke kampung, dipastikan makanan khas berupa timphan selalu terhidang, dan jumlah yang dihidang juga banyak, bukan satu dua. Lebih parah lagi, belum mulai makan sang empunya rumah udah berpesan, “jangan malu-malu, makan yang banyak”, kalau sudah begini, program diet dipastikan gagal total.

Gadis Aceh
Dalam adat aceh yang tak tertulis, memuliakan tamu adalah hal yang wajib dilakukan, dan cara memuliakan tamu salah satunya dengan makanan yang enak-enak tadi. Pepatah “peumulia jamee adate geutanyo” yang bermakna “memuliakan tamu adalah budaya kita” sering diartikan dengan “biar utang dulu, yang penting tamu senang”. Jadinya ya sering orang ngutang, asal tamu yang berkunjung bisa makan enak. Dan kalau sudah ditawarkan makan, kita yang bertamu wajib menerimanya, walau kadang baru selesai makan, sedang tidak selera makan, atau sebagainya. Tidak ada alasan untuk boleh menolak pemberian orang, kecual kalau sedang puasa. Budaya ini yang kemudian membuat orang aceh banyak yang gemuk, banyak makan enak, apalagi saat kodangan, lebaran, musim maulid atau bertamu. Mungkin ini adalah keluhan yang tidak langsung disampaikan sang dokter tadi.

Beberapa hari yang lalu juga, saya sempat mendengar keluhan seorang bule yang sedang melakukan penelitian di Aceh. Ceritanya dia tinggal di guess house kampus unsyiah, dan sering nongkrong di warung kopi yang letaknya tak jauh dari rumah dimana ia tinggal. Tapi dia heran karena setiap dia jalan kaki, dari rumah ke warung kopi, ada saja orang, yang umumnya anak kuliah yang menawarkan diri untuk mengantarkan si bule pakai motor, “bukan saya takut pakai motor, tapi saya kan biasa jalan kaki, dan saya senang jalan kaki, tapi kenapa setiap kali jalan kaki, selalu ada yang nyamperin, luar biasa ini, gak ada di Jerman, bahkan kalau di jerman, kita stop mobil minta numpang pun belum tentu dikasi, kalau disini malah orang yang punya kendaraan menawarkan kita untuk diantar, luar biasa” sebutnya panjang lebar, “tapi tak bagus untuk kesehatan”, sambung saya sedikit, yang disertai dengan tawanya yang lepas, dan memberi gestur setuju.

Ya, sama seperti cerita si bule di atas, saya sendiri beberapa kali mengalami “tawaran tak bisa ditolak” seperti diatas. Sering ketika pengin jalan kaki ke ATM, atau jalan ke masjid yang tak jauh dari tempat nongkrong, ada saja orang yang nawarin untuk dibonceng, “biar sempat sampai” alasannya. Padahal sudah saya jelaskan, kalau saya ingin jalan kaki, tapi tetap saja, “ek laju hai bang, karap abeh di bang”, alasannya.

Tadi sore saya juga mengalami hal yang sama. Kebetulan indicator jarum minyak di motor saya sudah berada di area merah alias sudah mau abis. Jadi setelah selesai mengirim tugas dan kepoin situs Tokopedia untuk nyari info tentang Promo Tiket Kereta di Tokopedia, saya putuskan untuk jalan-jalan ke pom bensin yang dekat dengan rumah. Lagian sore tadi cuacanya cukup bagus, tidak hujan seperti beberapa hari terakhir, jadi saya piker enak juga untuk JJS, walau sendirian. Nah, dari rumah saya langsung menuju ke pom bensin terdekat, tapi sampai disana saya lihat antrian cukup panjang, jadinya saya putuskan untuk jalan ke arah ulee lheu, yang jarangnya sekitar tiga atau 4 kilometer dari pom bensin ini. Tapi saya sempat khawatir, karena memang indicator minyaknya sudah lewat area merah, yang berarti sudah WAJIB diisi segera, tapi saya nekat ke gallon selanjutnya, saya piker, kalau habisnya masih jauh, tinggal isi saja di samping jalan, anggap saja berbagi rezeki, tapi kalau habis totalnya sudah dekat ke pom bensin, dorong saja sekalian, anggap saja olah raga, dua mekanisme pertahanan ego yang membuat saya yakin untuk ke pom bensin selanjutnya. Di jalan saya pertahankan gigi 4 agar bisa sampai ke pom bensin, tapi apa daya, motornya mati sekitar 200 meter sebelum sampai pom bensinnya. “dorong lah, udah dekat”, piker saya. Baru saja sekitar 10 meter saya dorong itu motor, langsung saja ada anak muda yang berhenti dekat saya “kenapa bang, habis bensin?” tanya dia sopan, saya hanya menjawab iya, dan sebelum sempat saya jelaskan kalau saya ingin olah raga, dia langsung motong “kalau gitu kita dorong saja ya bang, di depan kan ada pertamina”, jelasnya, sambil memutar ke belakang, menurunkan tempat kaki dan siap siap untuk mendorong motor saya.

Pasrah, saya pun naik ke motor, dan membiarkan si anak muda untuk mendorong motor saya, hingga ke pom bensin. Sampai disana, setelah saya bilang terima kasih, dia pun menghilang, menolong tampa pamrih sama sekali.

Trus apa hubungannya orang gendut dengan tawaran dorong motor barusan? Jelas ada, kalau dia gak nawarin, saya kan bisa olah raga, tapi kalau saya nolak, saya yakin dia juga gak enak, karena menolak pertolongan orang itu “hana jroh” dana adat Aceh, sama kayak menolak orang yang memberikan makanan saat kita bertamu.

Jadi jelaskan kenapa orang aceh gemuk-gemuk? Karena orang aceh suka memberi, suka menolong, atau baik baiklah pokoknya. Hal ini juga menjawab pertanyaan kalau ada orang nanya, “kenapa udah lama tinggal di eropa, gak kerja disana saja? Kenapa pilih pulang dan kerja di Aceh? Jawaban saya adalah, karena kalau saya kerja di Eropa dan motor saya habis bensin di jalan, gak bakal ada yang nawarin untuk dorong, itu saja.

7 comments:

  1. hahahhaa..
    betoui kali bang..
    berbagi pengalaman, motor saya pernah putus rantai di tengah jalan. Baru dorong 2 meter, alhamdulillah langsung datang pertolongan. Anak muda entah datang dari mana, langsung bantu dorong dari belakang. Bantu dorongnya pun jauh kali, hampir 1 km dengan jalan berlubang2 besar. Subhanallah kali... Habis bantu langsung pergi, diajak ngopi pun gk mau. Bit2 baek ureeng Aceh tanyoe nyoe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ureung aceh emang bijeh get akai, kecuali yg brok2 manteng :)

      Delete
  2. di kampungku kak kalu kurus dikira kurang makan

    ReplyDelete
  3. tulisan yang renyah serupa kerupuk mulieng :-D, kebiasaan duduk di warkop lama-lama sambil mulut ngunyah terus terus juga jadi penyebab kenapa banyak yang gundut2.... lupa untuk gerakkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. berapa gelas makannya? renyah2 gitu? :)

      Delete
  4. wah, saya ga lama lagi gemuk ini, tapi keseringan galau makanya payah gemuk, padahal orang aceh

    ReplyDelete

Powered by Blogger.