Header Ads

Pengalaman Naik Oman Airlines: Gak Dapat Makan Karena Ketiduran

Oman airlines
Selesai pusing-pusing di Kairo dan dapat pengalaman yang sangat gak enak karena dalam 2 hari sudah kena tipu tiga kali (baca kisahnya disini: dua hari tiga kali ketipu di Kairo), kali ini saya pulang ke Nusantara via kuala Lumpur dengan menumpang pesawat Oman Airlines. Ada tiga alasan kenapa saya pilih terbang dengan Oman Airlines: Pertama saat saya cari tiket oneway dari Mesir ke Kuala Lumpur, dapatnya yang paling murah ya Oman Air, kedua saya memang belum pernah terbang dengan pesawat ini, dan yang terakhir saya pengen jalan-jalan di Oman, yang memang untuk warga Indonesia visanya bisa diperoleh di Bandara alias visa on arrival.

Dari Cairo pesawat berangkat jam 00:55 dan baru tiba di Oman jam 06:45 waktu setempat. Penerbangan saya selanjutnya baru jam 21:30, yang berarti saya punya waktu transit lebih dari 14 jam di bandara ini, dan ini memang sudh saya rencanakan dari awal, pilih pernerbangan yang transitnya lama, dan gunakan waktu transit tersebut untuk sekedar jalan-jalan di negara kecil nan kaya raya ini. Nah, pengalaman saya mendapatkan visa Oman, hingga jalan-jalan di objek wisata di muscat bisa dibaca di tulisan ini: (sehari transit dan mutar-mutar di muscat, modalnya 500 ribu saja).
Nah, selesai putar-putar di muscat, 3 jam sebelum penerbangan selanjutnya, saya sudah balik ke bandara, karena memang ternyaa gak banyak yang bisa dilihat di Muscat. Tiba di bandara, saya masih harus menunggu beberapa lama lagi, untungnya tempat tunggu cukup bagus karena kursinya sepertinya dipersiapkan untuk mereka yang transit lama. Nah, disini saya sempat mencoba untuk tidur, tapi gak pernah bisa karena sebentar-bentar didatangi oleh petugas bandara yang merupakan orang Bangladesh atau India yang diprkerjakan oleh orang Oman disana. Gak enaknya, gaya mereka masih sama seperti waktu di kampungnya, main datangin, teriak, bangunin, minta liat boarding pas, meski kita sudah bilang pesawat kita masih lama. Hek deh. Selama menunggu, perut sudah lumayan keroncongan, tapi karena yakin dipesawat bakal dapat makanan, jadinya disana sabar saja. 

Makanan di Bandara Seeb Oman
Ketika jam penerbangan semakin dekat, saya menuju ke gate dimana kami seharusnya depart, sayangnya disini lagi-lagi saya sial, karena dapat berita penerbangan yang saya maksud akan delayed selama sejam. Jadinya waktu itu saya gak tahan lagi, dan memutuskan untuk makan dulu di restoran yang ada di bandara, setelah mutar-mutar cari yang termurah tentunya. Selesai makan, sempat berleha-leha sebentar, dan baru menuju ke gate penerbangan selanjutnya.

Karena waktunya sudah larut malam, rasa kantuk sudah tak tertahan, karena memang kemarin dari Kairo berangkatnya malam, dan hanya sempat tertidur sebentar di pesawat, sedangkan siangnya sudah saya pakai untuk jalan-jalan keliling Muscat.

Masuk kedalam Pesawat Airbus A330 yang nampaknya lumayan baru, saya langsung menuju ke kusi, sambil jalan di gang, saya lihat flight attendance alias pramugari umumnya cewek-cewek pinoy, dan entah kenapa, begitu lihat mereka ramai disana firasat gak enak saya kembali muncul. Tapi waktu itu rasa kantuk sudah memaksa saya untuk tidak berfikir yang lain lagi selain tidur. Saat pesawat taxing dan take off, saya sudah ketiduran.

Suasana Bandara Oman

Beberapa saat setelah mengudara, kami dibagikan comfort kit yang terdiri dari sleeping mask, sikat gigi dan odol. Welcome snack juga ada, selesai makan saya pun tidur. Selama terbang sempat beberapa kali terbangun karena turbulensi, tapi setelah melihat penumpang lain sedang tidur, dan tidak ada pramugari yang membagikan makanan, saya pun tidur lagi. Setelah sekitar 6 jam terbang, perut saya mulai keroncongan, di luar juga sudah terang benderang, sebagian penumpang sudah bangun, walau masih banyak yang juga masih tidur. Perut saya kini sudah benar-benar keroncongan, tapi tak ada pramugari yang datang. Karena mau ke WC, sekalian saya mutar ke belakang, tempat pramugari biasanya ngumpul, dan benar saja, mereka sedang asik bergosip ria disana, tidak ada yang kerja, atau mungkin kerjaan mereka sudah selesai? Karena lapar, saya tanya ke seorang yang paling dekat dengan saya, apa makanannya apa sudah dibagi? "Sudah, dua jam yang lalu", jawabnya seadanya, "kenapa saya gak dapat ya", tanya saya lagi "mungkin anda tidur" jawabnya. Karena respon seadanya, saya juga malas tnya lagi, tapi sebelum saya beranjak, dia sempat nanya, "apa anda lapar", saya geleng saja, padahal dalam hati saya pingin jawab "kamu mikir tidak? 7 jam tebang tanpa makan minum, belum lagi tadi delay, apa gak lapar"?, Tapi debat sama cewek pinoy sama saja, gak akan ada hasilnya, lagian dia juga sudah bilang gak ada makanan lagi (trus makanan orang yang gak makan karena tertidur kemana?).

Tiba di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia, saya langsung buru-buru ingin turun, ingin segera ke imigrasi dan kemudian mencari makanan yang ada di Bandara. Hunting kuliner di bandara juga layak untuk dicoba, meski pastinya harganya lebih mahal dibandngkan biasanya.

Makanan di Bandara KLIA2
Mungkin kedepan, saya gak mau coba lagi naik Oman Airlines, selain sudah pernah ke Oman dalam penerbangan ini, layanan pesawatnya juga biasa saja, kecuali terpaksa naik karena harganya lebih murah. Kalau kemudian ketemu lagi sama pramugari pinoy, ya sabar-sabar saja, atau sekalian minum antimo, biar sekalian bisa tidur lama sepanjang penerbangan. Sekian (Situnis).

4 comments:

Powered by Blogger.